gonjang-ganjing, dunia terasa runtuh, kepala Atika berrdenyut nyaris lepas dari tempatnya demi melihat siapa yang berdiri di depan pintu. Dengan gemetar dan gagap di persilahkan wanita itu masuk.
“Mbak Nina, hem selamat pagi, silakan masuk, Mbak.” Wanita yang bernama Nina tidak menyahut, matanya merah menyala, dadanya turun naik menahan berjuta kemarahan, dengan kasar Nina masuk rumah …
“Oh Jadi rumah ini dan perabotan ini semua Mas Heru yang menyediakan ?!! enak betul kamu Tika !! kamu ini siapa ??!! istrinya ??!! kamu tahu kan, kalau mas Heru itu suami saya, bapak anak-anak saya ?! apa kamu tidak mampu mencari laki-laki lain ? sehingga laki-laki setua Mas Heru kamu kejar ??! atau kamu hanya mau uangnya saja ?!! “Nina masih berkacak pinggang, Atika mencoba menenangkan Nina.
“Tenang mbak Nina, sabar, saya mau bicara, saya minta maaf, saya memang salah, tapi apa yang mbak Nina katakan tadi, tidak benar, saya”
“Omong kosong, pinter kamu bicara ??? kenyataannya kamu sudah merebut Mas Heru dari aku dan anak-anak, kamu poroti juga uangnya apa itu namanya ?! he perempuan sundal, berapa kamu mau uang ?????
“Saya tidak membutuhkan uang mbak, saya …” belum sempat Atika meneruskan bicaranya, Nina sudah memotong.
“Kamu bilang kamu tidak membutuhkan uang, tapi kamu minta semuanya dari suami saya, apa itu namanya ?!! heh, kamu tidak usah munafik, bilang terus terang, berapa uang yang kamu butuhkan ?!! satu juta, dua juta atau seratus juta ?!!! ini aku kasih !! Tapi jangan pernah sekali-kali kamu menerima Mas Heru lagi di rumah ini Nina meninggalkan Atika sambil melempar segepok uang … Atika memungut uang itu, mengejar Nina …
“Mbak Nina, saya tidak inginkan uang ini, saya tidak membutuhkan, terima kembali uang ini, dan saya berjanji, saya tidak akan menerima Mas Heru lagi”…
“Sombong benar kamu, sok suci, munafik, dasar perempuan sundal”…
Nina melajukan mobilnya dengan sangat kencang, setelah menerima kembali uang dari Atika. Atika terduduk lemas, tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Pikiran Atika tiba-tiba saja buntu. Tidak bisa berpikir …
Atka lupa, mau apa, dan ingin apa … sampai menjelang senja ketika Heru datang, Atika masih terduduk di teras tanpa bergeming.
Atika … Atika … kamu kenapa Atika ?! Atika, kamu kenapa ?! Heru mengguncang-guncang tubuh Atika, yang duduk bagai patung hidup ltu. Dadanya masih turun naik menandakan kehidupan, tapi tatapan mata Atika kosong, seperti ada sesuatu yang hilang …… mata yang bagai rembulan itu, tidak lagi bersinar seperti biasanya, kelihatan redup, dan seperti terluka.
Heru merangkul tubuh mungil Atika, di dekapnya Atika …… di bawanya Atika ke dalam pelukannya, di gendongnya Atika masuk rumah … Heru menyadari, semua ini adalah kesalahannya. Dia sudah memberikan setumpuk harapan pada Atika, tapi dia tidak akan pernah memenuhi harapan itu, tiba-tiba Heru tersedu menangisi kebodohannya, menangisi dosanya.
Pelan tangan Atika terulur, mengelus tengkuk Heru …… halus, lembut
Mas Heru, jangan menangis, aku bahagia selama ini, Mas Heru tidak bersalah, aku yang bersalah mas, … aku tidak tahu diri, … aku yang, tidak tahu malu Mas suara itu bergetar. “Tadi Mbak Nina datang ….”
“Atika”
Aku bahagia mas, bahagia sekali, bisa bersamamu Atika tersenyum manis seperti biasanya, tapi mendadak senyum itu terdengar menakutkan, dan berubah menjadi tangis, berubah menjadi tawa surnbang.
Wajah Atika yang manis, ikut berubah menakutkan, sangar, tatapan matanya kosong, ……….. kosong !!!!!.
Heru hendak memeluk Atika, Atika mengibaskan tangan Heru hingga Heru nyaris terjengkang … melihat Heru terjengkang, Atika tertawa … tawa yang aneh … Atika berlari masuk rumah sambil melolong seperti kesakitan yang menyayat hati, dan terdengar macam-macam makian, umpatan entah ditujukan pada siapa.
Perasaan yang sekian lama terpendam tumpah bersamaan dengan batas kemampuan jiwa, dan hatinya. Atika benar-benar bagai rembulan yang terluka.
Medio ’99
For me
Lia Adrianysah
Filed under: cerpen, cerita pendek